Sebelumnya saya mau tegaskan cerita ini hanya fiktif belaka adapun kesamaaan tokoh dan cerita adalah faktor kesengajaan karena saya tidak pintar mengarang cerita
.
Pada hari rabu minggu yang lalu aku harus berangkat lagi ke Bandung , tapi kali ini berbeda dari biasanya kalo biasanya hanya pergi 2-4 orang, kali ini kami pergi bertujuh (dah kayak ashabul kahfi aja ya
) , ketujuh orang itu adalah Mrs Percaya Diri, Mr Sabar Selalu, Mr Always Freeze,Mrs Squirm, Mr Jarang Hadir, Mr Amat Santai dan tentunya yang ketujuh itu aku . Kami pergi bertujuh bukan tanpa alasan, urusan di Bandung yang cukup banyaklah yang memaksa kami harus berangkat banyak orang.
Kami start dari kantor rabu siang karena kami kira untuk hari pertama ini urusannya ga terlalu rumit jadi bisa diselesaikan dengan cepat dan urusan yang satunya lagi pun memang baru bisa dikerjakan hari kamis pagi jadi kami tidak terburu2 berangkat ke Bandung. rencana perjalanan yang memang dua hari itu membuat kami harus merencanakan menginap setidaknya untuk satu hari dan untuk hal itu Mrs Percaya Diri menugaskan saya untuk mencari hotel yang bagus dan modern.
Sebenarnya untuk urusan di Bandung aku biasa menginap di Savoy Homan kalau engga Grand Preanger karena selain posisinya dekat dengan kantor tempat kita melaksanakan tugas, hotelnya juga relative nyaman tapi Mrs Percaya Diri ingin suasana baru dan agak trauma dengan Savoy Homan yang memang sudah agak berumur. Oleh karena itu aku minta rujukan beberapa teman dan muncullah beberapa nama yaitu Sheraton, Holiday Inn dan Concordia Hotel. Untuk Sheraton dan Holiday Inn aku dah punya gambaran tapi untuk Concordia terus terang baru kali ini dengar ada di Bandung, dengan alasan itu aku mencoba menghubungi Sheraton tapi ternyata untuk hari itu penuh dan akupun melanjutkan ke Holiday inn yang ternyata penuh juga dan akhirnya aku mencoba googling di internet tentang Concordia Hotel yang di Bandung yang ternyata lebih dikenal dengan nama Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang.
Setelah googling di internet didapatlah beberapa gambar yang merepresentasikan seperti apa hotel itu dan melihat presentasi kamarnya yang minimalis, dengan beberapa lukisan dari zaman Art nouveau dengan aliran plural painting saya tahu bahwa hotel ini umurnya belum terlalu lama ditambah lagi dengan arsitektur luar bangunan yang dominan kaca bening yang menunjukkan bahwa hotel ini baru dibangun walaupun memang bangunan dasarnya menggunakan arsitektur belanda.
Setelah yakin hotel ini layak saya pun menelpon resepsionisnya dan booking untuk satu hari dan ternyata jumlah kamarnyapun tersedia sesuai pesanan kami. Rabu siang ketika masih di perjalanan ke Bandung pihak hotel pun menelpon saya untuk memastikan kamar yang kami pesan dan tanpa pikir panjang aku pun menjawab jadi padahal belum melihat dimana tempatnya dan bagaimana bentuk aslinya. dan yang lain pun percaya saja dengan pilihanku itu tanpa kepikiran mau cek dulu lokasinya jadi tiba di Bandung, kami langsung ke tempat kerjaan dengan harapan setelah selesai kami baru ke hotel dan istirahat disana.
Setelah urusan hari itu selesai kamipun meluncur ke hotel tersebut yang ternyata kalau dari tempat kita lumayan jauh lebih kurang 9 km, itu juga dengan jalanan Bandung yang lumayan berkelok-kelok dan mebingungkan, sebagai gambaran tempat kami bekerja di jl.Asia-Afrika sementara hotel itu ada di Jl. Kiputih ( Ciumbuleuit naek terus ampe mentok ) dan yang lebih celaka lagi tujuan kami besok ada di Jl.Kawaluyaan yang jaraknya lebih jauh lagi.
Selama perjalanan ke hotel saya membayangkan Mrs. Percaya Diri yang lagi kebingungan dan menggerutu (kami kebetulan beda mobil) karena memang posisinya agak sedikit terpinggirkan tapi saya masih berpikir positif bahwa nanti ketika sampai di hotel semuanya pasti terbayar. Ketika sampai di hotel mulailah kekhawatiran saya karena yang bagus dan modern itu ternyata balai pertemuannya saja dan juga green area nya yang memang luas, hotelnya sendiri sepintas lalu sudah terlihat nilai historisnya ( udah tua juga
) dan sudah di pastikan apa yang akan dikatakan Mrs PD dan saya pun langsung kebayang jangan 2 bau Muara Angke masih ngikut nih
(baca tulisan yang Jalan-jalan ke Pulau Tidung ).
Setelah tanya ke resepsionis ternyata benar usia hotel ini sudah 192 tahun dan ketika mendengar itu langit terasa sangat gelap dan matahari pun hilang ditelan kegelapan tersebut (padahal sih emang sudah maghrib
), sebenarnya ga ada masalah dengan hotel ini selain ukuran kamarnya yang memang kecil selebihnya nyaman (terutama udaranya yang sueger) tapi saya terpikir jarak ke tempat kerjaan kami besok dan juga janji untuk mencarikan hotel yang tidak tua yang ternyata malah lebih tua dari hotel yang kita hindari, akhirnya walaupun menikmati tapi terbersit juga sedikit rasa bersalah sama Mrs. PD takutnya beliau ga bisa tidur nanti malam tapi nasi sudah menjadi bubur karena kami memang dateng ke hotel itu jam 5 sore sehingga kalo kita batal booking kasihan resepsionisnya yang sudah mencatat bookingan kami akhirnya dengan berat hati Mrs. PD pun menyetujui menginap di hotel itu.
Seperti yang aku bayangkan sebelumnya ga bisa dihindari perbincangan malam itu hanya seputar masalah pilihan hotel yang aku pilih, ketika waktu kita mau dinner sepanjang perjalanan setiap melihat hotel yang bagus Mr. Always Freeze selalu menyindir dengan kata-kata “Wah ,hotel ini kayaknya bagus nih ” dan pasti dilanjutkan dengan wajah ketus Mrs. PD yang ga mau lagi membahas masalah hotel, dan diakhiri dengan tawa kita semua yang duduk dibelakang.
Mengingat kondisi Mrs PD yang lagi ga moody, aku pun ga berani mengusulkan tempat dinner yang akan kami bantai, tapi setelah sedikit berkeliling di daerah Dago, Cihampelas dan Tamansari akhirnya kami memutuskan untuk makan di cafe Halaman, dengan alasan cafenya cukup cozy dan ada live musiknya, dan Mrs. PD ini suka sekali dengan musik. Waktu itu baru jam 7 sedangkan jadwal live musik baru dimulai jam 8, tapi karena terlalu lapar untuk menunggu kami pun rela melewatkan kesempatan candle light dinner dengan iringan live musik dan segera memesan makanan dengan harapan selesai makan kami masih bisa bersantai dengan menikmati iringan live music.
Untuk pesanan makanan ada cerita sendiri yang membuat aku sedikit malu, waktu memesan Mr. Sabar Selalu memesan sapi lada hitam, sedangkan aku sendiri memesan sapi cabe hijau. Waktu itu pesanan masing-masing orang datang tidak bersamaan dan pesanan aku, Mr. sabar Selalu dan Mr. Jarang Hadir belum datang ketika pesanan yang lain sudah hampir habis dimakan ( yang lain cuma pesen Mie Tasik ) . Ketika sedang harap-harap cemas pelayannya membawa satu buah piring dengan sapi, cabe hijau dan sedikit taburan lada hitam diatasnya. Karena ga yakin apa nama pesanan itu saya pun nanya ke pelayannya “ini sapi cabe hijau ya?” dan pelayannya pun menjawab “iya ” , tapi saya masih ragu soalnya koq ada lada hitamnya walaupun sedikit, Mr. Sabar Selalu juga menduga itu pasti sapi lada hitam pesanannya tapi karena sudah sangat lapar saya pun memberanikan diri “memakan” duluan tanpa menunggu dulu sapi cabe hijau yang belum datang untuk memastikan.
Baru dua suap datanglah piring satu lagi, yang berisi sapi dengan irisan cabe hijau dan cabe merah, dan tahukan anda namanya ??? dan ternyata namanya adalah “sapi cabe hijau” dan yang lebih meyakinkan adalah disana tidak ada taburan lada hitamnya. Waktu terasa berhenti sendok ke-3 yang udah siap disuap aku turunkan lagi pelan-pelan dan akupun menoleh ke Mr. Sabar Selalu yang memang duduk tepat di sebelahku, dan yang lebih membuat aku malu entah menyindir apa tidak dia bertanya ” wah sepertinya pesanannya ketuker mas, ga apa-apa nih ? ” dan akupun hanya bisa tersenyum pahit,
Sampai kita selesai menghabiskan semua makanan yang tersaji dan waktu itu sudah pukul delapan, belum ada tanda-tanda live music mau dimulai, baru ada orang yang bulak-balik ngecek key board dan sacsophone, lalu pergi lagi dan hal itu berlangsung sampai jam 8. 30 dan karena kelamaan menunggu akhirnya kamipun pulang dan tebak apa yang terjadi kami pulang ? live musicnya pun dimulai.
Setelah semua yang terjadi kami pun kembali ke kamar masing-masing dan dengan segala kenangan kami beristirahat, tapi diriku sendiri yang mencarikan hotel itu malah terbebani dengan semua kenangan tadi dan sempet aga susah untuk istirahat tapi ya sudahlah yang berlalu tetap berlalu, tapi ada beberapa pelajaran juga yang dapat diambil dari pengalaman hari ini, yaitu :
1. kalau jadi konsumen jangan terlalu percaya dengan satu atau dua gambar tetap saja kita harus meneliti ke lapangan setidaknya menanyakan lebih teliti apa yang kita butuhkan dan inginkan tersedia atau tidak,
2. Kalau kita jadi pengusaha kita harus tahu betul kelebihan dan kekurangan barang yang kita jual, sehingga kita bisa menampilkan sisi terbaik yang kita punya.
3. Kalau mau nonton live musik di cafe mesti larut malam, kalo masih sore ga ada.