Sesungguhnya segala puji dan syukur hanya untuk Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa-jiwa kami dan dari kejelekan amal-amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Kami bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad bin ‘Abdillah adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluargnya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berusaha mengikutinya hingga Hari Kiamat kelak.
Tulisan ini terinspirasi dari dialog dengan beberapa orang yang dengan mudahnya mengatakan “ah jangan munafik loe” dan juga kalimat “ gue sih ga munafik” atau juga kalimat “ jangan munafik deh,..” dan biasanya disandingkan dengan perbuatan maksiat yang menurut orang itu lebih baik untuk blak-blakan daripada menutup-nutupinya dan jadi orang yang sok baik.
Untuk mengerti apa itu munafik kita bisa perhatikan beberapa hal berikut :
- Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah bersabda: Ada empat sifat yang bila dimiliki maka pemiliknya adalah munafik murni. Dan barang siapa yang memiliki salah satu di antara empat tersebut, itu berarti ia telah menyimpan satu tabiat munafik sampai ia tinggalkan. Apabila berbicara ia berbohong, apabila bersepakat ia berkhianat, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila bertikai ia berbuat curang. (Shahih Muslim No.88) - Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat.
(Shahih Muslim No.89) - Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira-ria dengan ketidakikutsertaan mereka bersama Rasulullah saw. Lalu apabila Nabi saw. telah kembali, mereka mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian dengan apa yang tidak mereka perbuat. Maka turunlah ayat: Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa. (Shahih Muslim No.4981) - Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Abu Ya’la)
- Yang paling aku takuti atas kamu sesudah aku tiada ialah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
- dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.Q.S Ali- Imran :167
- dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.
Kalau boleh menarik kesimpulan dari beberapa poin diatas, menurut saya ciri orang munafik dengan bahasa kita sekarang adalah :
- Pendusta
- Pengkhianat
- Culas (hanya mengambil sesuatu yang menguntungkan dirinya secara langsung)
- Orang yang suka ingkar janji
Dari sedikit ulasan diatas kita bisa tahu kejujuran memang bukan ciri orang munafik, oleh karena itu kita harus menjadi orang jujur yang merupakan karakter orang mukmin, tetapi bukanlah hal yang benar kita mengungkapkan aib kita pada orang lain seperti yang dikatakan dalam hadist berikut :
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (Shahih Muslim No.5306)
Menutupi kesalahan kita bukanlah agar kita tetap terlihat baik di mata orang lain, tetapi untuk mencegah agar aib yang kita lakukan tidak diikuti oleh orang lain yang akhirnya dianggap hal yang biasa dan pada ujungnya menimbulkan kemaksiatan massal. Sebagai ilustrasi di sebuah kantor pada awalnya orang- orang malu untuk menerima uang sogokan dan kalaupun menerima mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi dengan begini tiap orang seakan-akan saling menjaga, ketika seseorang mau menerima sogokan secara otomatis akan lebih memilih menolak sogokan itu jika ada temannya yang kebetulan mengetahui. Akan tetapi jika satu orang saja berani melakukan secara terang-terangan dengan alasan dia ga mau jadi orang munafik yang pura-pura menolak padahal sebenarnya menerima kawan-kawan yang lain pun akan berpikir ga usah takut dan malu lagi toh yang lain juga sama-sama menerima akhirnya lambat laun tindakan itu akan dilakukan terang-terangan dan orang yang tidak terbiasa menerimapun bisa jadi terpaksa menerima karena sudah menjadi system terstruktur.
Begitu juga dengan perjinahan, ketika beberapa orang berani mengatakan kekhilafannya yang tidak bisa menahan diri ketika bersama pasangannya dengan alasan yang sama “ gue sih ga munafik emang gue pengen, normal kan? ” maka lambat laun perbuatan itu akan menjadi sesuatu hal yang wajar yang pada akibatnya seperti terlihat sekarang remaja-remaja bahkan orang dewasapun berani mempertontonkan kemesraan dimana saja dan kapan saja.padahal Rasulullah SAW berkata sebagai berikut :
Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Naudzubillah tsumma naudzubillah, belum lagi sekarang fenomena kaum pecinta sesama jenis yang sudah mulai merebak di masyarakat dan mereka berani menampilkan status mereka, lagi-lagi alasan mereka sama “ gue ga munafik ya, emang gue suka mau diapain lagi” dan diawali dengan satu-dua orang yang tampil di media dengan menampilkan status dan gaya mereka maka menjamurlah mereka bahkan ada beberapa yang berani membuat kelompok sendiri dan mempertontonkan betapa hebatnya hubungan yang mereka jalani padahal sangatlah jelas adzab Allah terhadap perbuatan mereka seperti dalam Q.S An-Naml berikut :
| Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)?” |
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ |
54 |
| Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. |
أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ |
55 |
| Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Lut beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih”. |
فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ |
56 |
| Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). |
فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِينَ |
57 |
| Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. |
Dan juga beberapa hadist berikut :
Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Beliau lalu menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaknat laki-laki yang bertingkah laku wanita dan wanita yang bertingkah laku laki-laki. Beliau bersabda: “Usirlah mereka dari rumahmu.” Riwayat Bukhari.
Apa yang saya bahas ini bukan berarti kita boleh melakukan kemaksiatan asal diakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan mengingatkan kita semua terutama saya pribadi bahwa memang wajar sebagai manusia melakukan kemaksiatan karena kita memang tempatnya salah dan lupa, kalau dalam keadaan sadar akan akibat yang ditanggung saya yakin tidak ada yang mau melakukan kemaksiatan, namun ketika khilap melakukan kemaksiatan maka lebih baik cukup bagi kita menyadarinya, berusaha memperbaikinya dan yang paling penting tidak henti-hentinya meminta ampunan kepada Allah dan menutupi setiap kemaksiatan dengan kebaikan dan semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni Allah. Amin