“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS.3:190-191)
Begitu banyak mahluk yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan, diantaranya ada yang sangat jelas manfaatnya buat kita dan ada juga yang perlu pemikiran yang mendalam untuk mengetahui apa maksud dari penciptaan tersebut, hanya yang pasti dari semua yang Allah ciptakan itu tidak ada yang sia-sia “……Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
Salah satu yang banyak manfaatnya adalah besi, hampir seluruh perangkat yang kita gunakan mengandung besi. Zat yang dalam tabel periodik mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26 ini mempunyai banyak sekali kegunaan bahkan darah kita pun mengandung zat ini. Tapi kegunaan besi pada umumnya sudah diketahui banyak orang oleh karena itu saya akan mengambil hikmah dari besi dengan sudut pandang yang lain yang akan dikisahkan dalam cerita berikut, silahkan menyimak :
Alkisah pada suatu hari Bautista (Baut ) bertemu dengan Murti (Mur) disebuah taman kota yang cantik, pada pandangan pertama mereka sudah saling memiliki ketertarikan masing-masing, Baut begitu tertarik dengan kecantikan Mur yang menurut dia waktu itu tiada duanya disisi lain Mur juga melihat Baut begitu gagah dan mempesona tapi karena baru bertemu merekapun hanya tersipu malu dan memalingkan muka tapi tanpa kesepakatan lisan seolah otomatis mereka langsung duduk di bangku yang sama,namun bangku berukuran panjang hanya 2 meter itu belum bisa mencairkan suasana hati mereka yang kaku sehingga walaupun tidak ada orang lain lagi mereka duduk berseberangan, Baut di ujung kiri dan Mur di ujung sebelah kanan.
Beberapa menit berlalu seakan-akan sudah berjam-jam dan Baut pun mulai ga tahan dengan kebekuan ini dan akhirnya memberanikan diri memulai pembicaraan .ternyata Baut sangat menikmati sekali berbincang-bincang dengan Mur seakan-akan mereka sudah kenal bertahun-tahun dan mereka pun tidak menyadari kalau mereka belum saling kenal.
Matahari mulai merendah dan jam ditangan Mur sudah menunjukkan pukul 5 sore dan mau ga mau mereka harus menyudahi perbincangan mereka, ketika Mur hendak pergi barulah Baut sadar kalau mereka belum kenalan dan tanpa pikir panjang Baut langsung menanyakan nama dan nomer telepon Mur, Mur pun dengan senang hati memberikan nomer handphone nya dengan harapan bisa sering berbincang-bincang dengan Baut.
Hari demi hari terus berlalu dan tidak ada seharipun yang dilewatkan Baut untuk menelpon atau SMS ke Mur walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. semakin lama mereka merasakan kecocokan satu sama lain semakin besar, Baut merasa Mur-lah pasangan yang diharapkan, Mur sendiri merasa tidak ada laki-laki lain yang lebih baik dari Baut dan sudah sangat berharap Baut segera menyatakan cintanya dan lebih baik lagi segera meminangnya.
Setelah beberapa bulan dari sejak pertama kali mereka berkenalan , Baut pun mulai merasa harus memantapkan hati dia pun bertanya kepada orang tuanya tentang pilihannya yaitu Mur, pada awalnya orang tua Baut tidak setuju dengan pilihannya tersebut karena menurut mereka Mur orangnya terlalu mudah bergaul dan mereka pikir Baut nantinya akan sering merasa cemburu dan dikhianati tapi dengan pertimbangan kebahagiaan Baut nantinya merekapun akhirnya menyetujuinya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari orangtuanya Baut pun memberanikan diri dan langsung meminang Mur yang juga sudah sangat menunggu-nunggu. Singkat cerita sampailah mereka pada jenjang pernikahan haru campur bahagia dirasakan oleh Mur, bahagia karena akan menjalin kebersamaan dengan orang yang dicintai tapi disisi lain juga sedih karena ga lama lagi akan meninggalkan orang tua yang ga kalah dia cintai juga.
Waktu pernikahan Mur dan Baut sangat berbahagia sekali, ketakutan berpisah dengan orang tua yang dirasakan Mur kalah oleh kebahagiaan dari banyaknya ucapan selamat dari kerabat dan teman mereka berdua yang datang , dua hari sejak menikah mereka masih sangat bahagia namun dihari ketiga mulailah timbul beberapa masalah kecil, Baut merasa Mur tidak seperti yang dia bayangkan kebiasaan2 kecil Mur ada beberapa yang mengganggunya tidak terkecuali Mur juga merasakan hal yang sama, tapi mereka masih menahan diri, mereka ingat waktu sebelum menikah orang tua mereka pernah menasihati tentang itu, bahwa sebagai besi yang bersifat korosif, Baut dan Mur tidak dapat menahan kodrat akan datangnya karat diharapkan atau tidak karat itu akan datang dan merusak masing-masing dan untuk itu mereka harus saling menjaga.
Baut dan Mur pun sepakat untuk saling melindungi setiap ada cobaan datang baik itu air yang membasahi ataupun kerasnya kandungan udara, Baut dengan sigap membersihkan Mur dan melindungi Mur sehingga terbebas dari resiko berkarat dan begitu juga Mur dengan telaten selalu melayani Baut dan menghindarkannya dari resiko berkarat, 2 tahun pun mereka dapat lewati dengan tetap saling mencintai dan saat-saat yang dinantipun tiba yaitu kehamilan Mur, dan berita ini semakin mempererat jalinan kasih mereka.
Setelah kelahiran anak mereka mulai timbul masalah baru lagi Baut merasa Mur kurang bisa mengurus anak sementara Mur sendiri berharap sepulang kerja Baut dapat menggantikan dia yang lelah mengurus anak seharian, tapi Baut yang juga kelelahan karena tekanan pekerjaan malah datang dengan muka lesu dan tidak mau diganggu dengan urusan anak yang sudah dia anggap sepenuhnya urusan Mur.
Semakin hari Mur semakin merasa tertekan dan semakin kecewa terhadap Baut, dan disela masa2 suntuknya itu Mur mengisi waktunya dengan aktifitas jejaring sosial Facebook, di FB itulah dia ketemu dengan teman sekolahnya dulu, karena merasa dekat Mur ga canggung untuk membicarakan masalah keluarganya pada temannya itu dan gayungpun bersambut ternyata temannya itu memiliki masalah yang sama dan akhirnya mereka semakin dekat.
Hari-hari Mur tidak suram lagi karena dia sudah mendapatkan tempat untuk berbagi beban yang dia rasa tidak bisa dibagi dengan suaminya, kecocokan dengan temannya di FB membuat dia lupa kalau dulu pertama kali bertemu dengan Baut dia merasakan hal yang sama bahkan jauh lebih besar. membuat dia lupa kalau dulu sosok Bautlah yang selalu ada dipikirannya. Sampai pada suatu hari Mur pun memberanikan diri meminta bercerai kepada Baut yang dia rasa sudah cocok lagi, yang dia rasakan Baut sudah berkarat terlalu banyak dan Mur tidak sanggup lagi membersihkan karat-karat itu, Mur lupa kalau dia sudah sama-sama berkarat.
Ikatan suci pernikahan dan anak mereka membuat proses ini semakin sulit belum lagi seperti yang kita tahu Baut dan Mur yang disatukan jika sudah berkarat akan sulit untuk dilepaskan dan kalau dipaksakan masing-masing pasti akan mendapatkan luka yang sama. Tetapi Mur sudah jemu dengan semua ini dan sudah tidak tahan ingin menjalin kisah dengan temannya tadi dan diapun tetap memaksa untuk berpisah. Baut walaupun dengan berat hati mengingat anak mereka dan apa yang mereka telah lalui bersama akhirnya setuju untuk melepas Mur dengan harapan suatu hari Mur akan sadar dengan kesalahannya dan kembali padanya.
Setelah berpisah dengan Baut, Mur pun dengan bahagia menjalin kasih dengan temannya, namun ternyata sudah kodrat sebuah hubungan selalu ada badai yang menerpa, dan kali ini ternyata jauh lebih besar dari yang dirasakan sewaktu dengan Baut , hanya sebentar sekali Mur merasakan kebahagiaan masih segar diingatan Mur walaupun Baut sering cuek dan tidak mengabulkan permintaannya tapi Baut tidak pernah sedikitpun menamparnya dan puncak kemarahan Baut hanya sampai membentak, sedangkan pasangannya sekarang sepertinya hanya menganggap Mur pelampiasan sesaat, caci maki bahkan tamparan sering Mur rasakan dan Mur pun menyadari kesalahannya.
sedih,kecewa sekaligus malu dirasakan oleh Mur dan diapun merasa harus kembali dan meminta maaf pada Baut, dengan harapan Baut masih mau menerimanya kembali namun apadaya nasi sudah menjadi bubur, Baut pun bukan tipe orang yang meratapi diri dan hanyut pada kesepian, sekarang Baut sudah beristri lagi dan Mur pun harus menelan pil pahit ini sendirian.
Sahabat, cerita diatas mungkin hanya roman picisan belaka, tapi memang begitulah sebuah hubungan seperti Mur dan Baut yang awalnya pas seiring berjalannya waktu lama-lama akan berkarat juga, barangsiapa yang sabar dengan karat yang mengganggu itu maka beruntunglah dia karena tanpa disadari karat itulah yang semakin memperkuat ikatan mereka, kalo ga percaya silahkan coba membuka baut yang sudah berkarat pasti lebih susah daripada yang masih baru. namun merugilah yang tidak sabar dengan karat itu karena jika dipaksakan untuk lepas tidak ada lagi baik Mur ataupun Baut lain yang bisa pas karena masing masing sudah memiliki karat yang bentuknya tidak beraturan, ada juga yang hanya sekedar bisa masuk tapi ga ada kekuatan pengikatnya sehingga mudah lepas, jadi bagi yang sudah berkarat bersabarlah dengan pasangan masing-masing
.